Ada fase dalam hidup yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah maupun seminar motivasi. Fase di mana semua impian duniawi yang dulu dikejar mati-matian—gaji pertama, barang impian, pencapaian karier—satu per satu mulai tercapai. Dulu, euforia itu nyata. Rasanya seperti sedang naik tangga keberhasilan; setiap langkah membawa rasa puas. Tapi perlahan, semua itu menjadi biasa. Hambar.
Kini, aku berada di persimpangan yang sunyi—sebuah fase kontemplatif, tempat di mana kebisingan dunia tak lagi menggetarkan hati. Semua tercukupi. Alhamdulillah, hidup tidak kekurangan. Tapi justru di titik itulah muncul rasa hampa yang tidak bisa ditambal dengan apapun di dunia ini. Seolah-olah aku tengah berdiri di tengah keramaian, tapi jiwaku duduk termenung, bertanya: “Apa lagi yang sedang kucari sebenarnya?”
Fase ini bukan tentang kehilangan arah, tapi lebih kepada kesadaran bahwa arah yang selama ini kutuju mungkin bukan tujuan sebenarnya. Dunia telah kutapaki, tapi hati justru rindu kepada sesuatu yang lebih abadi. Inilah titik ketika semua kenikmatan dunia tak lagi menjadi candu, dan satu-satunya hal yang benar-benar menenangkan adalah ketika kening menyentuh sajadah, ketika doa-doa berbisik lirih, “Ya Allah, cukupkan aku dengan ridha-Mu.”
Ternyata hidup bukan soal berlomba menumpuk pencapaian, tapi tentang bagaimana menjadikan setiap detik sebagai ladang amal. Fase ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan pulang—menuju Dia yang menciptakan, mencukupkan, dan memanggil pulang di waktu yang tak pernah bisa kita duga.
Kini aku mulai memahami, bahwa ternyata kedewasaan bukan cuma tentang usia atau pencapaian. Tapi tentang menyadari bahwa dunia ini fana, dan rasa cukup bukan berarti kita berhenti, melainkan kita mulai menyaring: mana yang benar-benar perlu, dan mana yang hanya memuaskan ego sesaat. Kadang, bahkan yang kita anggap tujuan hidup, sebenarnya cuma persinggahan. Kita kejar mati-matian, lalu saat tercapai… kita justru bingung, “Lalu setelah ini, apa lagi?”
Dan di sanalah letak rahmat Allah SWT yang paling halus: saat Dia ambil rasa candu terhadap dunia, dan gantikan dengan ketenangan dalam ibadah. Mungkin ini bukan fase kehilangan arah, tapi justru fase dijemput hidayah. Saat Allah SWT lembut menyentuh hati kita dan berkata, “Kamu sudah cukup dengan dunia. Sekarang saatnya kembali pada-Ku.” Dan sungguh, tak ada tujuan yang lebih tinggi daripada itu.






