Assalamualaikum wr wb.
Halooo guys, semoga sehat selalu dan bahagia selalu ya 🙂
Agustus 2016
Ucapan dari Ayu saat itu hanya gue anggap obrolan biasa aja, karena gue dan Ayu memang nggak terlalu dekat. Kami berada di satu Departemen Himpunan yang sama, tapi hanya sebatas urusan organisasi, jadi gue hanya mengenal Ayu dari sisi itu saja. Ayu yang gue kenal selama berorganisasi adalah orang yang baik dan tepat waktu. Bahkan, pernah suatu kali saat ada rapat divisi, Ayu sudah datang lebih awal, sementara gue yang ketua divisi malah telat! Haha, ya itu aja yang bisa gue gambarkan tentang Ayu. Gue sama sekali nggak tahu lebih banyak soal kepribadiannya.
Sekitar akhir bulan Agustus, semua kegiatan KP sudah selesai. Semua mahasiswa tinggal mengerjakan revisi yang diberikan oleh dosen penguji masing-masing, termasuk gue. Saat gue lagi sibuk dengan revisi itu, tiba-tiba ponsel gue berbunyi dan ada notifikasi dari BBM (Blackberry Messenger) dari Ayu. Pesan itu berisi:
"Re, nanti bantuin aku coding ya." Gue awalnya cuma menganggap itu candaan Ayu, jadi gue balas dengan candaan juga.
Beberapa kali, ketika gue update status di BBM, Ayu membalas status gue dengan kalimat yang hampir sama, intinya dia minta bantuan gue untuk coding program skripsinya nanti. Dari situ, rasa penasaran gue mulai muncul. Gue mulai mencari informasi tentang Ayu melalui media sosialnya. Tapi ya, cuma penasaran aja, nggak lebih dari itu.
Positif Thinking
Hingga akhirnya, gue berpikir, “Kayaknya Ayu beneran minta bantuan nih.” Sejak saat itu, kalau Ayu memang mengirim pesan lagi untuk meminta bantuan, gue siap membantunya. Beberapa minggu kemudian, pesan itu datang juga.
Ayu: "Re, nanti aku minta bantuan kamu ya buat bantuin coding program punya aku." Gue: "Haha, insya Allah, hayu dibantuin." Ayu: "Bener, Re? Maaf ya kalau ngerepotin." Gue: "Haha, nggak kok, santai aja, kalau bisa bantu, ya aku bantu." Ayu: "Oke, Re, makasih sebelumnya."
Sejak itu, gue dan Ayu mulai sering berkomunikasi lewat BBM, kadang juga saling berbalas status. Banyak teman kosan gue yang juga minta bantuan buat program skripsinya. Mungkin lebih dari 5 orang, gue lupa tepatnya. Gue jadi bingung, kalau gue bantu Ayu, gimana dengan teman-teman gue yang lain di kosan? Gimana bagi waktunya? Gue lagi mikir keras itu, karena membantu satu program orang lain itu nggak gampang, apalagi dengan waktu yang terbatas. Jujur aja, gue sempat dilema, apa gue benar-benar mau bantu Ayu atau nggak. Karena, jujur aja, program gue sendiri aja masih berantakan, apalagi program orang lain. Tapi gue selalu punya niat, kalau gue bisa bantu, ya gue akan bantu siapa saja. Tentu saja dengan pertolongan Allah SWT, supaya semuanya dimudahkan. Hehe.
Masuk semester 7, sebenarnya belum sampai tahap pembuatan aplikasi, masih fokus ke pembuatan dokumen proposal. Tapi, harusnya dari sekarang kita udah mulai siapin aplikasi, jadi nanti di semester 8 tinggal perbaiki minor bug dan revisi dari dosen. Berbeda kalau kita beli program dari orang lain, ya… haha.
September 2016
Gue dan Ayu masih sering berkomunikasi terkait skripsi.
Ayu: "Re, kamu bener kan mau bantuin aku?" Gue: "Iya, Yu, insya Allah kalau aku bisa bantu, ya aku bantuin." Ayu: "Tapi aku nggak tahu harus mulai dari mana programnya." Gue: "Sekarang mah selesain dulu aja proposalnya, nanti juga kelihatan sendiri dasar-dasar programnya." Ayu: "Oke, Re, kalau nanti kita kerkom (kerja kelompok), kamu bisa nggak? Mau bahas program, sama diskusi dokumen."
Sebenarnya gue lupa banget gimana awalnya gue dan Ayu bisa janjian buat kerja kelompok. Tapi yang jelas, gue masih ingat banget pertama kali gue dan Ayu ketemu buat kerja kelompok bahas skripsi. Waktu itu kita janjian ketemu di Masjid Besar Kampus. Kita kerkom-nya sih nggak di dalam masjid, tapi di pendopo atau teras samping masjid. Tempat itu banyak orang yang berkumpul buat kerkom juga.
Gue agak sedikit gugup karena ini cuma berdua aja. Awalnya, Ayu ngajak teman lain, tapi gue menolak dengan alasan biar bisa fokus bantuin dia. Bisa jadi sih, haha. Pertemuan itu kami pakai buat bahas bagaimana program skripsi Ayu. Karena masih di tahap proposal, jadi belum jelas aplikasinya seperti apa. Bisa aja proposal kita nanti ditolak dosen pembimbing. Makanya, gue bilang sama Ayu, “Fokus kita sekarang ke proposal dulu, kalau sudah disetujui dosen, baru kita bahas programnya.”
Ayu kelihatan panik karena dia nggak begitu paham cara buat program. Dia khawatir nggak ada yang bantuin. Itu juga kenapa Ayu sangat berharap bisa dibantu saat itu. Kerkom pertama kami pun cuma bahas dokumen proposal saja. Setelah selesai, Ayu pulang ke kosannya, dan gue ke kosan teman. Tapi entah kenapa, gue merasa ada yang aneh. Gue merasa senang banget bisa bertemu dengan Ayu, cuma berdua. Apa jangan-jangan… gue suka sama Ayu? Hmm, bisa jadi. Tapi ya namanya juga first impression, kan? Hehe, yaaa… menarik lah.
Novi apa kabar ???
Bang, bagaimana dengan Novi, apa sudah tidak komunikasi???
Oke, sebelumnya kan gue udah cerita kalau gue sudah lama banget nggak komunikasi sama Novi. Maksudnya komunikasi yang intens, kayak chat atau SMS, itu udah jarang banget. Paling cuma sesekali balas komentar di social media. Kadang gue juga sesekali ngajak Novi main ke sekre UKM, tapi ya pasti ditolak dengan alasan klasik, haha. Jadi, komunikasi kami sekarang udah biasa aja. Fokus gue mungkin sekarang ke Ayu… ya mungkin, loh hahaha.
Part 9 sampai sini dulu yeeee, masih panjang ceritanya gan. Masih  banyak lika liku nya dan pastinya seru ceritanya. Oh iya mohon maap nih ya jika ada salah salah dikit ya terkait waktu dan teks chat nya, karena gue hanya menceritakan bagian yang gue ingat aja. hehe
Terima kasih yang sudah membaca sampai part 9 ini yaaa. :)))








