Aku duduk di sudut kafe favoritku, secangkir kopi hitam mengepul di atas meja. Uapnya membentuk pola samar di udara, seolah menari mengikuti pikiranku yang melayang entah ke mana. Pagi ini sepi, hanya beberapa orang yang sibuk dengan laptop mereka, sementara aku memilih menikmati ketenangan ini sendirian.
Aku menyesap kopiku pelan, membiarkan pahitnya meresap ke lidah. Rasanya pas—seperti biasa. Tapi anehnya, pagi ini terasa beda. Pikiran tentang dia muncul begitu saja, merusak ketenanganku. Aku tidak tahu kenapa, tapi bayangannya tiba-tiba memenuhi kepalaku.
Aku ingat percakapan kami semalam. Obrolan ringan yang berakhir dengan tawa kecil darinya. Suara itu masih terngiang di telingaku, membuatku tersenyum sendiri. Gila, segini besarnya dia memengaruhiku.
Kopi di depanku mulai dingin, tapi aku tak peduli. Aku lagi sibuk berandai-andai. Jika dia ada di sini sekarang, duduk di seberangku, mungkin aku bakal cerita banyak hal. Tentang betapa nyamannya ngobrol sama dia, betapa aku suka senyumnya yang muncul tiba-tiba, atau tentang gimana aku tak bisa berhenti mikirin dia sejak pertama kali kami kenal.
Aku tahu, dia tak mudah percaya sama orang. Mungkin hatinya telah jadi benteng setebal tembok kastil, sulit ditembus, penuh keraguan. Tapi aku siap menghancurkan benteng itu, meski harus berlayar melawan badai waktu dan menembus ribuan keraguan. Aku yakin, suatu hari nanti dia akan sadar bahwa di antara semua orang yang mencoba menyentuh hatinya, akulah pilihan yang teapt, akulah yang seperti pohon tua di tepi sungai—tetap berdiri kokoh meski diterpa angin dan hujan, setia menunggu seseorang datang untuk berteduh di bawah rindangnya.
Aku menyesap sisa kopi yang udah mulai dingin. Pahitnya masih sama, tapi kali ini aku suka. Karena meski rasanya nggak selalu manis, aku percaya… semua ini layak untuk diperjuangkan.
Dan jika pada akhirnya dia menemukan seseorang yang mampu membuatnya bahagia, aku akan rela dan ikhlas. Begitu juga denganku. Karena mencintai tak selalu tentang memiliki—kadang cukup dengan tahu bahwa orang yang kita sayangi menemukan jalannya sendiri untuk bahagia.






