Ramadan tahun ini terasa begitu cepat berlalu. Seperti angin yang lewat di malam hari, begitu cepatnya waktu itu meninggalkan jejaknya. Rasanya baru saja aku mengangkat tangan untuk memohon doa di malam pertama, dan kini sudah hampir tiba waktunya untuk berpisah. Ramadan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ada satu hal yang mengganggu hati aku, membuatnya terasa berat—satu hari, aku batal puasa.
Sebelumnya, aku selalu merasa bangga bisa menjalani bulan suci ini dengan penuh. Tiap hari aku menjalani puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari tanpa pernah bolong sedikit pun. Tapi kali ini, entah mengapa, tubuhku tak bisa lagi bertahan. Gigi yang tiba-tiba sakit begitu parah, seakan mengingatkan aku bahwa tubuh ini punya batasan. Aku berusaha untuk kuat, namun rasa sakit itu semakin menyiksa, hingga akhirnya aku harus menyerah.
Aku merasa sangat kecewa. Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu berhasil menjalani puasa tanpa ada satu pun hari yang batal. Tapi kali ini, aku harus menghadapinya—merasa lemah dan tak mampu melanjutkan puasa. Saat itu, aku melihat bapa, yang selalu ada untukku selama Ramadan, sedang mempersiapkan sahur. Wajahnya penuh ketenangan, meskipun aku tahu, dia juga pasti merasa ada yang berbeda.
Bapa tak pernah mengeluh, meski aku tahu dia menyadari betapa besar usaha yang selalu kupertahankan selama Ramadan. Namun, kali ini aku merasa ada jarak. Aku merasa seperti gagal memenuhi harapan, meskipun bapa tak pernah menunjukkan rasa kecewa.
Namun, meskipun ada kekosongan itu, aku merasa ada hal lain yang mengisi ruang hati. Ramadan selalu menjadi waktu yang tepat untuk berdoa, dan tahun ini doaku terasa sedikit berbeda. Selain mendoakan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan keluarga, ada doa yang aku panjatkan dalam hati yang tak bisa kuungkapkan begitu saja. Aku berharap doa ini dikabulkan. Doa itu bukanlah sesuatu yang kuucapkan keras-keras, hanya bisikan halus dalam setiap sujudku, sebuah harapan yang sederhana namun penuh arti.
Doa itu terasa lebih dalam pada suatu malam yang sangat istimewa, malam Lailatul Qadar. Malam yang penuh kemuliaan, yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Malam itu, aku merasakan ketenangan yang luar biasa, seolah-olah dunia sekitarku menghilang, hanya ada aku dan doa-doa yang meluncur dari hati. Dalam sepertiga malam, aku memanjatkan doa agar semua yang aku harapkan bisa terwujud. Aku memohon dengan tulus, bukan hanya untuk keluargaku, tapi juga untuk doa spesial yang kupanjatkan sebelumnya. Semoga diberikan kebahagiaan, semoga suatu hari nanti, jalan kami bisa saling bersilangan.
Malam itu, meskipun aku tak mengucapkannya dengan kata-kata yang jelas, aku merasa doaku sampai. Seperti doa yang mengalir begitu dalam, terasa begitu tulus dan penuh harap. Aku tahu, tak ada yang lebih istimewa daripada doa yang dipanjatkan di malam Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dan ampunan.
Hari-hari terus berlalu, dan meskipun ada satu hari yang tak sempurna, aku berusaha untuk terus menjaga niat dan semangat. Ramadan kali ini mengajarkan aku bahwa bukan hanya tentang seberapa banyak kita menjalani puasa, tetapi juga bagaimana kita menghadapi kekurangan dan menerima kenyataan.
Menjelang akhir Ramadan, aku dan bapa duduk bersama, berbuka puasa dengan sederhana. Suara adzan maghrib terdengar merdu, dan kami berdoa bersama, meskipun kata-kata yang keluar dari mulut kami tidak terlalu banyak. Hanya ada doa dan harapan yang kami panjatkan dalam hati. Aku merasa, meskipun ada kekurangan, Ramadan kali ini tetap memberikan pelajaran berharga.
Saat bapa mengangkat tangan untuk berdoa, aku merasakan kedamaian dalam hati. Ramadan memang telah cepat berlalu, namun pengajaran dan cinta yang kami bagi akan selalu bertahan, lebih lama daripada apapun. Doa-doa yang kuucapkan dalam hati juga akan tetap ada, mengalir, meski tak terucap, berharap suatu saat nanti, harapan-harapan itu bisa terwujud dengan cara yang indah.
Akhirnya, malam itu tiba. Ketika Ramadan beranjak pergi, aku tahu akan merindukan semua momen indah yang telah kami lalui. Dengan perlahan aku mengucapkan dalam hati, *”Selamat tinggal Ramadan tahun ini. Terima kasih atas segala pelajaran dan berkah yang kau bawa. Semoga kami bisa dipertemukan lagi di tahun yang akan datang.”*






