Sejak kecil, aku sudah terbiasa pergi ke sekolah sendiri. Tidak seperti teman-temanku yang setiap pagi berdiri di gerbang sambil melambaikan tangan pada orang tua mereka, aku hanya berjalan melewati mereka tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak pernah menunggu ayah atau ibu mengantarku, karena mereka selalu berangkat lebih pagi untuk bekerja.
Aku naik angkot ke sekolah, terkadang nebeng ke teman yang kebetulan satu sekolah yang sama. Awalnya, aku merasa biasa saja. Tapi seiring bertambahnya usia, aku mulai sadar bahwa ada banyak momen kecil yang kulewatkan.
Saat hujan tiba-tiba turun di siang hari, aku hanya bisa berdiri di depan kelas, menunggu hujan reda sambil melihat teman-temanku satu per satu dijemput. Ada yang melompat kegirangan saat melihat ibunya datang membawa jas hujan, ada yang berlari menghampiri ayahnya yang menunggu dengan motor di parkiran. Aku? Aku menunggu sampai gerimis mulai reda, lalu berjalan pelan melewati genangan air sambil memeluk tasku.
Setiap kali ada acara di sekolah—entah itu pentas seni, lomba, atau rapat orang tua—aku sudah tahu bahwa aku akan sendirian. Saat teman-temanku sibuk mencari wajah orang tua mereka di antara kerumunan, aku hanya duduk diam, pura-pura tidak peduli. Kadang guru menanyakan, “Orang tuamu tidak datang, Nak?” Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab, “Mereka kerja, Bu.”
Hari yang paling membuatku canggung adalah saat pembagian rapor. Teman-temanku duduk berdampingan dengan orang tua mereka, mendengarkan wali kelas menjelaskan perkembangan nilai mereka. Aku? Aku duduk sendiri di sudut, menunggu namaku dipanggil. Ketika giliranku tiba, aku berjalan ke depan, mengambil rapor tanpa ada yang bertanya bagaimana hasilnya, lalu kembali ke tempat dudukku.
Beberapa teman sesekali bertanya, “Kok orang tuamu nggak datang?”
Aku hanya tersenyum. Aku tidak pernah marah dengan pertanyaan itu, tapi aku juga tidak tahu bagaimana menjawabnya. Bagiku, itu sudah biasa.
Waktu terus berjalan, aku naik kelas, lalu naik lagi. Aku semakin terbiasa mengurus diriku sendiri di sekolah. Kalau ada tugas kelompok yang harus dikerjakan di rumah teman, aku pergi sendiri.
Aku tidak pernah menyalahkan orang tuaku. Aku tahu mereka bekerja keras untukku, untuk memastikan aku mendapatkan pendidikan yang layak. Tapi ada saat-saat di mana aku berharap, walau hanya sekali, aku bisa merasakan bagaimana rasanya melihat ayah atau ibu berdiri di depan gerbang sekolah, menungguku dengan senyum lelah tapi hangat.
Namun, sekarang aku sudah dewasa. Aku sudah terbiasa pulang sendiri, pergi sendiri, dan menjalani hari-hari tanpa berharap ada yang menunggu. Tapi kadang, saat melihat anak-anak kecil digandeng ayah atau ibunya di depan sekolah, aku tak bisa menahan senyum kecil.
Mungkin dulu aku tidak punya momen-momen seperti itu, tapi setidaknya, aku tahu bagaimana rasanya tumbuh mandiri.






