• Latest
  • Trending
  • All
  • Curhat
  • Komputer
  • Chord Lagu
  • Pengetahuan / Materi Sekolah
  • Puisi
  • Jepang/Korea/Mandarin
  • Lyric Lagu
  • Islam
  • Aplikasi Program
  • Tips dan Trik
  • Tak Berkategori
  • Biografi
  • Arsenal
  • Kaliki Band
  • Games PC
  • Avril Lavigne
  • PERSIB BANDUNG
  • Peterpan
  • Software Handphone
  • Tutorial Coding
  • Sony Ericsson
Sendiri di Antara Keramaian

Sendiri di Antara Keramaian

11 bulan ago
Aku yang Tak Pernah Beruntung

Aku yang Tak Pernah Beruntung

10 bulan ago
Fase yang Tak Bernama

Fase yang Tak Bernama

10 bulan ago
doa spesial untukmu di malam lailatul qadar

Selamat Tinggal Ramadan: Doa Di Malam Lailatul Qadar

11 bulan ago
Secangkir Kopi dan Harapan yang Diam

Secangkir Kopi dan Harapan yang Diam

11 bulan ago
080817

My Love Story Part #15 | 170808

1 tahun ago
Selasa, Februari 10, 2026
BUKAN SINCHAN
  • Beranda
  • Story
  • Chord Lagu
  • Tips dan Trik
  • Teknologi
  • Islam
  • Aplikasi Program
  • Software Handphone
    • Sony Ericsson
      • C902
      • J108 Cedar
      • J20 Hazel
      • J10 Elm
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Story
  • Chord Lagu
  • Tips dan Trik
  • Teknologi
  • Islam
  • Aplikasi Program
  • Software Handphone
    • Sony Ericsson
      • C902
      • J108 Cedar
      • J20 Hazel
      • J10 Elm
No Result
View All Result
Bukan Sinchan
No Result
View All Result

Sendiri di Antara Keramaian

by Rinaldy Virgiawan S
7 Maret 2025
in Curhat
A A
0

Beranda » Curhat » Sendiri di Antara Keramaian

0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sejak kecil, aku sudah terbiasa pergi ke sekolah sendiri. Tidak seperti teman-temanku yang setiap pagi berdiri di gerbang sambil melambaikan tangan pada orang tua mereka, aku hanya berjalan melewati mereka tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak pernah menunggu ayah atau ibu mengantarku, karena mereka selalu berangkat lebih pagi untuk bekerja.

Aku naik angkot ke sekolah, terkadang nebeng ke teman yang kebetulan satu sekolah yang sama. Awalnya, aku merasa biasa saja. Tapi seiring bertambahnya usia, aku mulai sadar bahwa ada banyak momen kecil yang kulewatkan.

Saat hujan tiba-tiba turun di siang hari, aku hanya bisa berdiri di depan kelas, menunggu hujan reda sambil melihat teman-temanku satu per satu dijemput. Ada yang melompat kegirangan saat melihat ibunya datang membawa jas hujan, ada yang berlari menghampiri ayahnya yang menunggu dengan motor di parkiran. Aku? Aku menunggu sampai gerimis mulai reda, lalu berjalan pelan melewati genangan air sambil memeluk tasku.

Setiap kali ada acara di sekolah—entah itu pentas seni, lomba, atau rapat orang tua—aku sudah tahu bahwa aku akan sendirian. Saat teman-temanku sibuk mencari wajah orang tua mereka di antara kerumunan, aku hanya duduk diam, pura-pura tidak peduli. Kadang guru menanyakan, “Orang tuamu tidak datang, Nak?” Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab, “Mereka kerja, Bu.”

Hari yang paling membuatku canggung adalah saat pembagian rapor. Teman-temanku duduk berdampingan dengan orang tua mereka, mendengarkan wali kelas menjelaskan perkembangan nilai mereka. Aku? Aku duduk sendiri di sudut, menunggu namaku dipanggil. Ketika giliranku tiba, aku berjalan ke depan, mengambil rapor tanpa ada yang bertanya bagaimana hasilnya, lalu kembali ke tempat dudukku.

Beberapa teman sesekali bertanya, “Kok orang tuamu nggak datang?”

Aku hanya tersenyum. Aku tidak pernah marah dengan pertanyaan itu, tapi aku juga tidak tahu bagaimana menjawabnya. Bagiku, itu sudah biasa.

Waktu terus berjalan, aku naik kelas, lalu naik lagi. Aku semakin terbiasa mengurus diriku sendiri di sekolah. Kalau ada tugas kelompok yang harus dikerjakan di rumah teman, aku pergi sendiri.

Aku tidak pernah menyalahkan orang tuaku. Aku tahu mereka bekerja keras untukku, untuk memastikan aku mendapatkan pendidikan yang layak. Tapi ada saat-saat di mana aku berharap, walau hanya sekali, aku bisa merasakan bagaimana rasanya melihat ayah atau ibu berdiri di depan gerbang sekolah, menungguku dengan senyum lelah tapi hangat.

Namun, sekarang aku sudah dewasa. Aku sudah terbiasa pulang sendiri, pergi sendiri, dan menjalani hari-hari tanpa berharap ada yang menunggu. Tapi kadang, saat melihat anak-anak kecil digandeng ayah atau ibunya di depan sekolah, aku tak bisa menahan senyum kecil.

Mungkin dulu aku tidak punya momen-momen seperti itu, tapi setidaknya, aku tahu bagaimana rasanya tumbuh mandiri.

Previous Post

My Love Story Part #15 | 170808

Next Post

Secangkir Kopi dan Harapan yang Diam

Related Posts

Aku yang Tak Pernah Beruntung
Curhat

Aku yang Tak Pernah Beruntung

by Rinaldy Virgiawan S
10 bulan ago
28
Fase yang Tak Bernama
Curhat

Fase yang Tak Bernama

by Rinaldy Virgiawan S
10 bulan ago
14
Load More
Next Post
Secangkir Kopi dan Harapan yang Diam

Secangkir Kopi dan Harapan yang Diam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

Arsip

Pos-pos Terbaru

  • Aku yang Tak Pernah Beruntung
  • Fase yang Tak Bernama
  • Selamat Tinggal Ramadan: Doa Di Malam Lailatul Qadar
  • Secangkir Kopi dan Harapan yang Diam
  • Sendiri di Antara Keramaian

Kategori

  • About
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Bukan Sinchan

Copyright © 2020 Rinaldy Virgiawan S

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Story
  • Chord Lagu
  • Tips dan Trik
  • Teknologi
  • Islam
  • Aplikasi Program
  • Software Handphone
    • Sony Ericsson
      • C902
      • J108 Cedar
      • J20 Hazel
      • J10 Elm

Copyright © 2020 Rinaldy Virgiawan S